Ordinariat Castrensis Indonesia di Gereja St. Mikael Pangkalan

Ordinariat Castrensis Indonesia Yogyakarta | Kunjungan ke Gereja St. Mikael

Ordinariat Castrensis Indonesia Yogyakarta | Kunjungan ke Gereja St. Mikael

Yogyakarta, Kamis 11 September 2025 โ€“ Gereja Katolik St. Mikael Pangkalan TNI AU Adisutjipto, Yogyakarta menerima kunjungan dari Ordinariat Castrensis Indonesia (OCI). Kunjungan ini menjadi momen penuh sukacita bagi umat paroki untuk mempererat persaudaraan iman sekaligus meneguhkan pelayanan pastoral di lingkungan TNI AU.

Ordinariat Castrensis Indonesia, atau lebih dikenal sebagai Ordinariat Militer Indonesia, merupakan keuskupan khusus Gereja Katolik yang melayani kebutuhan rohani umat Katolik di lingkunganTentara Nasional Indonesia (TNI) danPolisi Republik Indonesia (Polri). Kehadirannya menjadi wujud nyata bahwa Gereja hadir di tengah prajurit dan keluarga mereka, mendampingi perjalanan iman di tengah tugas pengabdian kepada bangsa. Baca selengkapnya tentang Ordinariat Militer Indonesia.

Kunjungan pastoral ke Gereja St. Mikael ini diisi dengan perayaan Ekaristi, ramah tamah, serta dialog akrab bersama umat. Melalui kegiatan ini, umat diingatkan untuk terus bertumbuh dalam iman, pengharapan, dan kasih. Bagi keluarga besar TNI AU, kunjungan OCI menjadi tanda kasih persaudaraan yang menguatkan dalam panggilan hidup sehari-hari.

Saat ini, OCI dipimpin olehMgr. Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, yang juga menjabat sebagai Uskup Ordinariat Militer Indonesia. Dalam pesannya, beliau menegaskan pentingnya peran keluarga sebagai dasar pertumbuhan iman, terutama bagi mereka yang mengabdi di lingkungan militer dan kepolisian. โ€œIman yang kokoh akan menjadi sumber kekuatan dalam mengabdi dan menjaga keutuhan bangsa,โ€ demikian penegasan Kardinal Suharyo.

Umat Gereja St. Mikael menyambut kunjungan ini dengan penuh syukur dan berharap kunjungan serupa dapat terus mempererat persaudaraan iman. Lebih jauh, kunjungan ini menjadi pengingat bahwa pelayanan pastoral bukan hanya bagi umat paroki pada umumnya, tetapi juga secara khusus bagi mereka yang dipanggil mengabdi dalam pertahanan dan keamanan negara.

Sebagai bagian dari profil Gereja St. Mikael Pangkalan TNI AU Adisutjiptoย kunjungan ini akan tercatat sebagai peristiwa bersejarah yang memperdalam relasi umat dengan gembala mereka. Umat juga diajak untuk semakin aktif dalam kegiatan menggereja, termasuk jadwal misa dan pelayanan pastoralyang menjadi bagian penting kehidupan iman sehari-hari.

Melalui kunjungan Ordinariat Castrensis Indonesia ini, umat diingatkan bahwa kasih Kristus menyatukan setiap keluarga Katolik, baik di lingkungan masyarakat umum maupun di tengah kehidupan militer.

Teras Pangkalan : Misteri Trinitas โ€“ Yesus Tuhan atau Allah?

OMK Pangkalan Bahas Misteri Trinitas dalam โ€œTeras Pangkalan Vol. 2โ€

OMK Pangkalan Bahas Misteri Trinitas dalam โ€œTeras Pangkalan Vol. 2โ€

Yogyakarta, Gereja Katolik Paroki Santo Mikael Pangkalan โ€” Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Mikael Pangkalan kembali sukses menggelar acaraTeras Pangkalan volume kedua. Kali ini, tema yang diangkat sangat reflektif sekaligus teologis, yaitu:โ€œMisteri Trinitas: Yesus itu Tuhan atau Allah?โ€

Acara ini berlangsung diRuang Serbaguna Gereja Santo Mikael, danjuga disiarkan secara daring melalui kanal YouTube resmi Gereja Pangkalan.Dengan demikian, acara ini dapat menjangkau umat yang lebih luas.

Sementara itu, diskusi yang berlangsung hangat dan terbuka ini dipandu olehIke sebagai moderator. Adapun narasumber utama yang hadir adalahRomo Dr. Bobby Steven Octavianus Timmerman, MSF, seorang imam Katolik yang aktif dalam pelayanan pendidikan serta formasi iman di kalangan muda.

Dalam sesi pemaparan, Romo Bobby mengajak peserta untuk mendalami ajaran Tritunggal Maha Kudus, yang merupakan inti dari iman Katolik.Meskipun istilah "Trinitas" tidak tertulis secara eksplisit dalam Kitab Suci, keberadaan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus sangat nyata. Sebagai contoh, hal ini bisa ditemukan dalam Matius 28:19 dan Kitab Kejadian.

โ€œTrinitas adalah satu Allah dalam tiga pribadi yang berbedaโ€”Bapa menciptakan, Putra menebus, dan Roh Kudus menyertai kita hingga kini. Ini bukan konsep buatan manusia, melainkan kebenaran yang diimani dan diajarkan Gereja sejak awal,โ€ jelas Romo Bobby.

Lebih dari itu, acara ini menjadi wadah pembinaan iman bagi generasi muda Katolik. Mereka diajak untuk menjawab berbagai pertanyaan kritis dari sesama maupun dari lintas agama. Melalui pendekatan yang komunikatif, Romo Bobby mendorong OMK agar membangun dasar iman yang kuat. Namun demikian, mereka juga diajak untuk tetap terbuka dan penuh kasih dalam berdialog.

Selain sesi pemaparan, kegiatan ini juga diramaikan dengan puji-pujian, sesi tanya jawab interaktif, serta kebersamaan antar OMK lintas lingkungan. Kehadiran umat, baik secara langsung maupun online, menunjukkan antusiasme dan kerinduan akan pemahaman iman yang lebih mendalam dan relevan.

Pokok Pembahasan yang Menarik:

    • Apa artiTrinitas dan bagaimana menjelaskan โ€œsatu Allah dalam tiga pribadiโ€.
    • Bukti keberadaanTrinitas dalam Kitab Suci (Matius 28:19, Kejadian, Yesaya).
    • Penjelasan mengenaiYesus sebagai Tuhan dan Allah.
    • Perbedaan Tritunggal Katolik dengan Trimurti dalam agama lain.
    • Bagaimana menjawab pertanyaan dari non-Katolik secara tepat dan hormat.
    • Refleksi atas pengalaman iman anak muda dalam menghadapi perbedaan keyakinan.

Di akhir sesi, Romo Bobby menegaskan bahwa meskipun istilah "Trinitas" tidak tertulis secara langsung, kehadiran tiga pribadi ilahi sangat jelas dalam ayat-ayat Kitab Suci. Ia pun menambahkan bahwa ajaran ini bukanlah hasil buatan manusia, melainkan bersumber dari Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.

๐Ÿ“Œ Tentang Teras Pangkalan

Teras Pangkalan adalah forum diskusi terbuka. Forum ini menjadi ruang reflektif, edukatif, dan inspiratif untuk mendalami ajaran iman Katolik, membangun komunitas, dan bertumbuh dalam spiritualitas yang kontekstual.


๐Ÿ“บ Tonton Video Lengkapnya:
๐Ÿ‘‰Teras Pangkalan | Vol 2 | Misteri Trinitas: Yesus itu Tuhan atau Allah?
๐Ÿ“
Gereja Katolik Santo Mikael Pangkalan, Jl. Laksda Adisutjipto, Yogyakarta

โœ๏ธ Bersama OMK Pangkalan, Orang Muda Katolik Bertumbuh dalam Iman dan Pelayanan.

Menjadi manusia yang bersedia dibentuk

Minggu, Hari Raya Santo Petrus & Paulus โ€“ Ulang Tahun Keuskupan Agung Semarang

Minggu, Hari Raya Santo Petrus & Paulus โ€“ Ulang Tahun Keuskupan Agung Semarang

Pertanyaan Yesus ini bukan sekadar pertanyaan biasa. Ia menyentuh lubuk hati terdalam, tidak hanya bagi Petrus dua ribu tahun lalu, tetapi juga bagi kita hari iniโ€”umat Keuskupan Agung Semarang yang tengah bersyukur atas ulang tahunnya..

Petrus menjawab bukan dengan logika, tetapi dengan iman dan hati: โ€œEngkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.โ€ Sebuah pengakuan yang mengubah segalanya. Dari pengakuan itu, Yesus mempercayakan Gereja kepada Petrusโ€”manusia rapuh yang pernah jatuh, namun selalu setia bangkit..

Hari Raya Santo Petrus dan Paulus bukan hanya mengenang dua pilar iman, tetapi juga menjadi cermin bagi kita. Petrus pernah menyangkal, Paulus pernah menganiaya. Namun Tuhan tidak mencari yang sempurna, melainkan mereka yang bersedia dibentuk.

Pada momen ulang tahun Keuskupan Agung Semarang ini, kita semua diundang untuk menjadi โ€œbatu hidupโ€, membangun Gereja bukan di atas nama sendiri, tetapi atas dasar kasih Kristus. Ini bukan soal nostalgia sejarah, melainkan panggilan untuk memperbarui komitmen sebagai saksi kasih di tengah dunia yang penuh tantangan.

Hari ini, Tuhan bertanya kepada kita seperti kepada Petrus:
โ€œSiapakah Aku bagimu?โ€
Dan jawaban kita akan menentukan arah hidup dan kesaksian kita.

Mari kita berjalan bersamaโ€”dengan iman kokoh seperti Petrus, semangat mewartakan seperti Paulus, dan cinta yang tak pernah padam dalam pelayanan kita.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr

Mujizat dan Kehadiran Allah di Tepi Danau

Mujizat dan Kehadiran Allah dalam Penampakan Yesus


Mujizat dan Kehadiran Allah dalam Setiap Langkah Hidup Kita

Kisah penampakan Yesus di tepi danau memberikan kita banyak pelajaran penting dalam kehidupan iman kita. Saat para murid merasa putus asa dan lelah, mereka tidak tahu bahwa Tuhan telah hadir di dekat mereka. Hal ini menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan kita, mujizat dan kehadiran Allah sering kali datang ketika kita tidak menyadarinya. Ini adalah ajakan untuk lebih peka terhadap cara-cara Tuhan bekerja, bahkan dalam situasi yang tampaknya biasa atau sulit..

Para murid yang tidak mengenali Yesus segera mengalami mujizat besar: ikan yang melimpah setelah mereka mengikuti perintah Yesus. Terkadang, kehadiran Allah dalam hidup kita hanya terungkap setelah kita lebih mendalam menghayati setiap peristiwa dan mengikuti perintah-Nya dengan penuh iman. Begitu pula dengan kita: sering kali Tuhan datang melalui orang lain, melalui peristiwa kecil dalam hidup, yang mungkin kita anggap biasa, padahal itu adalah cara Tuhan berbicara kepada kita..

Mengalami Kehadiran Allah dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagai umat beriman, kita dipanggil untuk hidup dalam kesadaran penuh akan mujizat dan kehadiran Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, Tuhan bisa hadir dalam bentuk apapunโ€”dalam kesulitan, dalam keberhasilan, bahkan dalam kedamaian hati yang kita rasakan. Tuhan mengundang kita untuk mendengarkan dan menanggapi dengan hati yang terbuka.

Hidup dalam Iman akan Mujizat

Sebagaimana para murid, kita pun dipanggil untuk percaya dan berserah, meskipun logika kita berkata โ€œtidak mungkin.โ€ Mujizat dan kehadiran Allah bisa dirasakan dalam berbagai bentuk: penyembuhan, pengampunan, atau bahkan damai di hati saat badai kehidupan menerpa.

Undangan untuk Gereja dan Kita Semua

Kisah penampakan ini menjadi undangan bagi Gereja dan kita semua untuk terus terbuka terhadap bimbingan Tuhan. Dengan kerendahhatian, keterbukaan hati, dan kesediaan mendengarkan, kita bisa mengalami mujizat dan kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari.

Referensi dan Bacaan Tambahan:

Rm. Paulus Nasib Suroto, Pr

Kesempatan Kedua Dalam Hidup Kita โ€“ Jalan Baru dari Tuhan

Kesempatan Kedua: Ketika Tuhan Membuka Jalan Baru Dalam Hidup Kita

Saatnya Bangkit: Kesempatan Kedua dari Lapangan Bulu Tangkis

Beberapa waktu lalu, saya bermain bulu tangkis bersama teman-teman. Di tengah pertandingan, tim saya tertinggal cukup jauh. Saat itu saya berkata kepada teman saya,โ€œAyo bangkit! Masih bisa! Kita harus berjuang!โ€. Kata-kata itu bukan basa-basi. Kami mulai bermain lebih rapi, lebih fokus, dan perlahan mulai mengejar ketertinggalan. Momen itu mengingatkan saya bahwa kesempatan kedua dalam hidup sangatlah berharga.


Ketika Dunia Menghakimi, Tuhan Memberi Jalan Baru Dalam Hidup

Dalam kehidupan, kita sering merasa seperti kalahโ€”baik secara ekonomi, dalam relasi, maupun dalam pergumulan batin. Dunia lebih cepat menunjuk dan menghukum daripada memberi kesempatan untuk bangkit kembali.

Namun dalam Yesaya 43:16-21, Tuhan berkata:

โ€œJanganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, perhatikanlah hal yang baru! Sesungguhnya, Aku membuat sesuatu yang baru...โ€

Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan bukan hanya Allah dari masa lalu, tetapi juga Allah yang menciptakan masa depan. Ia membuka jalan baru di padang gurun kehidupan kita.


Yesus dan Kesempatan Kedua

Dalam Yohanes 8:1โ€“11, Yesus menghadapi perempuan yang hendak dirajam karena dosa. Dunia siap menghukumnya, tetapi Yesus berkata:

โ€œAku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.โ€

Yesus tidak membenarkan dosa, tetapi menawarkan harapan dan perubahan. Ia percaya manusia bisa bertobat dan memulai hidup baru. Inilah kasih karunia yang memberi kesempatan keduaโ€”bukan omong kosong, tapi penuh kepercayaan.


Jadilah Bagian dari Perubahan dan Kesempatan Kedua Sesama

Hari ini, banyak orang di sekitar kita butuh harapan baru. Bukan hukuman, tapi dukungan dan penguatan. Tugas kita bukan melempar batu, melainkan menjadi bagian dari kebangkitan mereka.

Seperti dalam pertandingan bulu tangkis tadi, kemenangan sejati bukan soal skor, melainkan bagaimana kita terus berjuang meski pernah gagal.


Penutup: Mari Jadi Saluran Harapan dan Kasih

Tuhan membuka jalan baru setiap hari. Apakah kita bersedia menjadi bagian dari karya-Nya? Mari belajar dari Yesus yang memberi harapan, bukan hukuman. Karena setiap orang layak mendapatkan kesempatan kedua.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr

Tetap Setia dalam Perjuangan Hidup

Bacaan Injil: Yohanes 12:20-33

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbicara tentang biji gandum yang harus jatuh ke tanah dan mati agar menghasilkan banyak buah. Ini adalah gambaran tentang pengorbanan dan kesetiaan dalam menjalani hidup sebagai pengikut Kristus. Tetap setia dalam perjuangan hidup adalah panggilan bagi setiap orang beriman untuk tidak menyerah dalam menghadapi tantangan. Yesus sendiri telah menunjukkan bahwa melalui penderitaan dan kematian, Ia membawa keselamatan bagi dunia.

Kesetiaan dalam Perjuangan Hidup Sehari-hari

Kita sering kali menghindari penderitaan dan kesulitan. Kita cenderung mencari kenyamanan dan kemudahan dalam hidup. Namun, Yesus mengajarkan bahwa ada makna yang lebih dalam dalam setiap perjuangan yang kita hadapi. Seperti biji gandum yang harus mati untuk menghasilkan buah, kita pun dipanggil untuk tetap setia dalam perjuangan hidup agar dapat berbuah bagi sesama dan bagi kemuliaan Allah.

Tetap Berpegang Teguh dalam Iman dan Perjuangan

Renungan ini mengajak kita untuk merenungkan: apakah kita tetap setia ketika menghadapi tantangan? Apakah kita bersedia untuk mengorbankan keinginan pribadi demi kebaikan yang lebih besar? Terkadang, kesetiaan itu diuji dalam bentuk kesabaran menghadapi kesulitan, dalam ketekunan untuk tetap berbuat baik, atau dalam keikhlasan untuk memberi tanpa mengharapkan balasan.

Janji Tuhan bagi yang Setia dalam Perjuangan Hidup

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin menghadapi berbagai tantangan: di pekerjaan, dalam keluarga, atau bahkan dalam iman kita. Tetapi Tuhan menjanjikan bahwa mereka yang tetap setia dalam perjuangan hidup akan menikmati buah yang berlimpah. Seperti yang dikatakan Yesus dalam Yohanes 12:26, "Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa."

Renungan ini mengajak kita untuk merenungkan: apakah kita tetap setia ketika menghadapi tantangan? Apakah kita bersedia untuk mengorbankan keinginan pribadi demi kebaikan yang lebih besar? Terkadang, kesetiaan itu diuji dalam bentuk kesabaran menghadapi kesulitan, dalam ketekunan untuk tetap berbuat baik, atau dalam keikhlasan untuk memberi tanpa mengharapkan balasan.

Marilah kita berusaha untuk tetap setia dalam perjuangan hidup, dalam iman, dalam tugas kita sehari-hari, dan dalam kasih kepada sesama. Biarlah setiap perjuangan yang kita hadapi menjadi sarana bagi kita untuk semakin dekat dengan Tuhan dan menghasilkan buah yang baik bagi dunia.

Baca juga: Pijar Iman

Doa:ย Tuhan yang Mahakasih, ajarilah kami untuk tetapsetia dalam perjuangan hidupย dan menghadapi setiap tantangan dengan iman serta harapan. Berilah kami kekuatan untuk tidak menyerah dan terus berbuat baik bagi sesama. Semoga setiap pengorbanan yang kami lakukan membuahkan hasil yang baik bagi kami dan dunia. Amin.

Pijar Iman : Maret Minggu III

Masih Ada waktu untuk Menghasilkan Buah

(Luk 4:1-13)

Musa hidup selama 120 tahun. 40 tahun pertama ia hidup sebagai pangeran dalam Kerajaan Mesir karena ia diangkat dari air oleh permaisuri Firaun. 40 tahun kedua, ia hidup di Midian setelah ia lari dari Mesir paska ia membunuh salah satu tantara Mesir yang menganiaya orang Israel. 40 tahun terakhir, ia menemani bangsa Israel untuk keluar dari tanah Mesir menuju tanah terjanji. Peristiwa ia melihat semak belukar yang menyala tetapi tidak terbakar adalah peristiwa kunci dalam hidupnya. Ia menerima tawaran Tuhan untuk mengubah hidupnya. Dari Midian, ia kembali ke Mesir untuk menyelamatkan bangsanya. Hidupnya tidak senyaman sebelumnya, tetapi ia menyambut kisah itu. Peristiwa itu mengawali masa perjuangan di satu sisi, tetapi juga mengawali masa yang paling bermakna dalam masa paling bermakna dalam hidupnya. Ia tidak dikenang karena masa-masa di Midian, tetapi masa-masa di Padang Gurun, bersama bangsanya.

Ada kalanya, kita ada di masa yang penuh perjuangan, tetapi masa-masa yang sama bisa menjadi masa paling bermakna. Demikianlah, belajar dari Injil, kita masih punya sisa waktu untuk menghasilkan buah. Mungkin kinilah saatnya memperbaiki diri agar buahnya makin berlimpah. Terngiang ungkapan dalam Injil, โ€œPengurus kebun itu menjawab, โ€˜Tuan, biarkanlah dia tumbuh selama setahun ini lagi. AKu akan mencankgul tanah di sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!โ€™โ€ (Luk 13: 8-9).

Rm. Joko Lelono, Pr

Pijar Iman : Maret Minggu II

Hidup adalah jalan pemurnian diri

(Luk 4:1-13)

          Berbicara tentang hidup berarti berbicara tentang sebuah kisah perjalanan seseorang. Perjalanan setiap orang tidak ada yang sama. Setiap pribadi tentunya mempunyai pengalamannya sendiri. Bahkan Ketika memandang sebuah persoalan yang sama pun, kita mempunyai pendapat yang berbeda. Karena hidup adalah perjalanan. Perjalanan setiap pribadi menuju kepada Tuhan. Dalam perjalanan itu ada banyak rintangan. Ada yang sifatnya ringan, ada yang sedang dan ada yang membutuhkan tenaga ektra. Sebagai seorang beriman yakinlah bahwa Tuhan menguji kita tidak melebihi batas kemampuan kita.

          Sabda Tuhan pada hari Minggu Prapaskah I Tahun C, mengajak kita untuk merenungkan kisah perjuangan Yesus yang sedang dicobai oleh si Jahat. Berkat keteguhan hati, cobaan itu dapat dilalui. Tentunya dalam menjalani setiap godaan tidak serta merta dapat dihadapi dengan mudah, ada pergumulan batin yang begitu hebat. Ada rasa frustasi. Ada rasa ingin putus asa, ada rasa jengkel, ada rasa yang membuat kita bertanya kepada Tuhan โ€œTuhan mengapa Engkau menbuatku seperti ini?โ€. Perjuangan itu Ketika mampu menghadapinya (lulus ujian kehidupan) maka aka nada berkat yang Tuhan sediakan bagi hambanya yang setia. Percayalah bahwa masa retret Agung ini merupakan masa untuk memurnikan diri kita agar selaras denga napa yang di kehendaki-Nya dan Ingatlah bahwa Anda memiliki Tuhan di dalam hati Anda, yang selalu melihat Anda. Berkah Dalem.

Rm. Paulus Nasib Suroto, Pr

Pijar Iman : Maret Minggu I


"Berziarah Dalam Pengharapan"


Sebagai warga masyarakat kita kerap mengalami kegelisahan dan kecemasan terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi di negeri ini. Di kalangan kaum muda pun akhir-akhir ini muncul berbagai kecemasan yang menyebabkan ketidakpastian, khususnya di bidang ekonomi dan lapangan kerja. Tidak mengherankan jikalau ada orang muda yang mengalami gangguan kesehatan mental depresi dan stres.

 

Di tengah situasi yang demikian itu, kita diingatkan oleh Santo Paulus dalam bacaan kedua (1Kor 15:54-58) untuk tetap berdiri teguh, tidak goyah, dan selalu giat dalam pekerjaan Tuhan. Dalam persekutuan dengan-Nya seluruh jerih payah kita tidak akan sia-sia. Dalam bacaan Injil (Luk 6:39-45), Yesus juga mengingatkan kita untuk tolong-menolong dan saling menuntun dalam peziarahan ini.


Peziarahan bukanlah perjalanan seorang diri, namun perjalanan bersama seluruh warga Gereja. Yesus mengajak kita untuk memiliki mata hati yang jernih agar bisa menuntun dengan benar. Kita tidak mungkin bisa menuntun orang lain kalau mata hati kita buta. Kiranya tepat sekali sabda Yesus, โ€œDapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?โ€ (Luk 6:39).

 

Secara khusus terhadap orang muda, Paus Fransiskus meneguhkan agar jangan takut, karena Tuhan tidak pernah akan meninggalkan mereka di tengah jalan (bdk. Christus Vivit, no. 143).



Surat Gembala Prapaskah 2025 Mgr. Robertus Rubiyatmoko

Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang

Pijar Iman : Februari Minggu IV


"Mengasihi orang yang membenci, mengutuk dan berbuat jahat"

(Luk 6:27-38)

"Mengasihi orang yang membenci, mengutuk dan berbuat jahat"


            Injil pada hari Minggu biasa VII tahun C ini membawa kita kepada salah satu tuntunan hidup sebagai pengikut Kristus yang paling sulit. Tidak ada orang yang luput dari kesulitan menghayati perintah kasih kepada musuh. Berdasarkan pengalaman setiap pribadi, betapa sulitnya berdoa bagi orang-orang yang telah menimbulkan atau meninggalkan luka di dalam hidup kita. Jangankan berdoa bagi mereka, berbuat baik dan memintakan berkat bagi mereka kita tidak mau. Tiada maaf bagimu. Orang yang paling halus sekalipun akan kesulitan menerima penghinaan. Dia bisa tersenyum, namun hatinya ada benih dendam dan menunggu kesempatan untuk membalas. Betapa jahatnya kita dan hidup kita masih jauh dari Injil.


            Kasih kepada musuh itu adalah suatu Tindakan yang tidak didasari dengan emosi, tetapi pada pilihan dan Keputusan. Sebagai manusia, kita mesti lebih ingin berbuat jahat dan balas  dendam. Sebagai seorang pengikut Kristus maka pilihannya adalah berbuat baik, memberkati dan berdoa bagi musuh kita. Ini bukanlah perkara yang mudah. Tetapi itulah yang diminta oleh Tuhan Yesus kalau mau mengikuti-Nya. Suatu permintaan yang ekstrim namun bila mampu menjalaninya maka akan mendapatkan berkah & berkat yang berlimpah dari Allah. Berkah Dalem.



Rm. Paulus Nasib Suroto, Pr